#Terkini:  Pejabat BI Berbagi Tips Berangkat Haji dari AS

AnekaNews.com  – Sudah menjadi pengetahuan umum, untuk menunaikan ibadah haji di Indonesia membutuhkan waktu yang cukup lama. Panjangnya antrean membuat calon jemaah harus menunggu beberapa tahun untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Tak sedikit, calon jemaah memilih jalur haji khusus, untuk mempersingkat antrian dengan kuota haji khusus, tentu dengan biaya yang lebih mahal.

Namun, kondisi sebaliknya justru dialami warga negara Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat. Muslim di sana dengan mudah bisa pergi haji. Tidak perlu harus menjadi warga AS, atau permanent residence, WNI Muslim di AS cukup dengan waktu yang singkat bisa berangkat ke Tanah Suci.

Pengalaman itu setidaknya dituturkan Erwin Haryono dan istrinya, Dyah Retno Yulianti. Erwin yang bekerja sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia untuk AS, hanya membutuhkan waktu kurang dari dua bulan untuk mendaftar dan sudah bisa berangkat haji melalui AS.

Erwin akan berangkat ke Tanah Suci pada Jumat, 2 September 2016 mendatang. Ia berangkat ke Tanah Suci untuk menghajikan ayahnya yang telah wafat . Erwin dan Dyah sebenarnya sudah pernah menunaikan ibadah haji pada tahun 2003 silam. Pasangan suami istri itu berangkat melalui Indonesia dari daerah Kabupaten Bogor.

“Dua bulan yang lalu saya ada keinginan naik haji, menghajikan orang tua saya yang sudah meninggal. Dua bulan lalu saya mulai cari-cari informasi,” kata Erwin Haryono saat ditemui kontributor tvOne AS, Yanri Subekti di rumah dinasnya, di salah satu kawasan Perumahan Elit di Forest Hill, Queens, Kota New York, AS, Selasa, 30 Agustus 2016.

Erwin mendapat informasi bahwa untuk berangkat haji di AS harus melalui travel agency yang telah terdaftar. Berbekal informasi itu, Ia kemudian mencari travel agent milik warga Bangladesh dengan biaya paling murah sebesar US$ 7.800. Meski begitu, fasilitas yang dia terima selama di Tanah Suci cukup baik.

Kemudian setelah lebaran Idul Fitri lalu, pihak travel mendaftarkannya ke Kedutaan Besar Arab Saudi di AS, untuk berangkat haji pada tahun ini.

Alhamdulillah sudah dapat visa haji. Insya Allah, saya dan istri akan berangkat 2 September. Saya berangkat melalui Amman Yordania untuk mengganti baju ihram, dan terbang 1,5 jam ke Jeddah. Sampai selesai ke New York lagi tanggal 18 September,” ujarnya.

Menariknya, Erwin dan istri berangkat haji melalui AS tidak menggunakan syarat administrasi yang rumit. Padahal sebelumnya, Ia menerima informasi bahwa syarat untuk pergi haji melalui AS harus memiliki citizenship atau green card .

“Tapi ternyata tidak. Dari pengalaman saya, saya hanya pakai paspor dinas, paspor biru, dan visa untuk bekerja di sini. Atas dasar itu travel agent ke embassy Saudi, dan dapat visa haji,” ujarnya menerangkan.

Menurutnya, kesempatan WNI yang tinggal di AS untuk pergi haji sangat terbuka lebar dan cepat. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kesempatan haji di Indonesia yang membutuhkan antrean panjang dan waktu yang cukup lama. Pergi haji melalui AS hanya cukup mendaftar dan memiliki visa izin tinggal atau bekerja di AS.

“Ini kesempatan buat teman-teman yang bekerja sebagai perwakilan pemerintah di sini, KBRI, KJRI, atau pegawai swasta juga yang punya izin kerja, walaupun belum punya green card, saya rasa itu sesuatu yang bisa diusahakan. Kasus saya menujukkan bahwa itu bisa.” 

Serba Sendiri

Sementara istri Erwin, Dyah Retno Yulianti, mengakui pergi haji di AS ini dituntut lebih mandiri. Mulai dari menyiapkan perlengkapan haji hingga manasik, semuanya diurus sendiri oleh calon jemaah. Berbeda dengan haji di Indonesia, yang seluruh perlengkapan dan persiapan jemaah haji sudah dikoordinir oleh Kementerian Agama.

“Kalau di sini, kita semua harus cari sendiri,” kata Dyah.

Beruntung, di Kota New York masih ada toko-toko yang menjual perlengkapan ibadah haji. Bila ada perlengkapan haji yang tidak tersedia, biasanya kata Dyah, Ia menitip temannya yang sedang di Indonesia untuk membawakannya ke AS.

Selain itu, Dyah juga memiliki grup Whatsapp para WNI yang akan pergi haji melalui AS, sehingga bisa berbagi informasi soal perlengkapan haji, termasuk menentukan kapan dan dimana manasik haji dilakukan.

“Di sini lebih mandiri dan kompak juga. Dalam hal manasik, kita cari imam untuk membimbing manasik, cari tempat sendiri, kalau kurang jelas ya cari tempat lain, atau kita konsultasikan di WA atau Youtube,” ujarnya.

Laporan: Yanri Subekti/tvOne New York AS